Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi berbagai unsur diantaranya adalah manusia (guru-siswa), material, fasilitas, prosedur dan sebagainya yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya serta saling mempengaruhi dalam mecapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu interaksi antara unsur-unsur tersebut dan yang paling penting adalah interaksi antara guru, siswa dan lingkungan sekitar.
Dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, terdapat berbagai bidang yang dipelajari diantaranya adalah pembelajaran sejarah yang berarti proses belajar mengajar sejarah. Pembelajaran sejarah pada dasarnya memiliki peran mengaktualisasikan dua unsur pembelajaran dan pendidikan. Unsur yang pertama adalah pembelajaran dan pendidikan intelektual. Unsur kedua adalah pembelajaran dan pendidikan moral bangsa dan bertanggung jawab pada masa depan (Isjoni, 2007).
Unsur pembelajaran (instruction) dan pendidikan intelektual (intellectual training) diartikan sebagai pembelajaran sejarah tidak hanya memberikan gambaran masa lampau, tetapi juga memberikan latihan berpikir kritis dengan menganalisis suatu peristiwa dan dapat mencari makna atau nilai (value) dari suatu peristiwa sejarah yang dipelajari dan yang terakhir adalah dapat menarik suatu kesimpulan dari suatu peristiwa sejarah tersebut. Sedangkan pembelajaran dan pendidikan moral bangsa menuntut pembelajaran sejarah berorientasi pada pendidikan kemanusiaan (humaniora) yang memperhatikan nilai-nilai dan norma-norma. Hasil pembelajaran ini menjadikan siswa berkperibadian kuat, mengerti sesuatu agar dapat menentukan sikapnya. Pentingnya pengertian tentang sejarah untuk kehidupan sehari-hari membuat siswa mempunyai ‘alat’ untuk menyingkap ‘tabir’ rahasia gerak sejarah. Dengan sejarah mereka dapat mengetahui hasil-hasil perjuangan, peradaban zaman dahulu dan sebagainya. Sejarah diibaratkan pendidik, karena dapat mendidik jiwa manusia lewat hasil yang dicapainya (Trevelyan, 1957). Dalam konteks seperti ini pembelajaran sejarah bukan hanya untuk menanamkan pemahaman masa lampau hingga masa kini, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat kebangsaan dan cinta tanah air. Bangga sebagai bangsa Indonesia merupakan pengalaman berarti untuk menumbuh kembangkan rasa kebangsaan dan kecintaan pada manusia secara universal. Atas dasar itu, pembelajaran sejarah lazim dipandang sebagai bagian dalam membangkitkan minat terhadap sejarah tanah airnya sendiri, untuk dilanjutkan pada suatu inspirasi sejarah dari contoh-contoh kisah yang terjadi dalam ruang lingkup daerahnya.
Pembelajaran sejarah merupakan bagian dari masa lalu yang dibawa oleh guru-guru sejarah ke dalam kelas, karena posisi demikian maka tidak semua peristiwa masa lampau itu dapat diajarkan kepada siswa. Hanya peristiwa-peristiwa yang memiliki arti istimewa yang diajarkan pada siswa, yakni peristiwa yang ikut menentukan jalannya sejarah umat manusia (Widja, 1989). Karena itu pembelajaran sejarah memiliki peran fundamental dalam kaitannya degan guna belajar sejarah atau tujuan dari belajar sejarah. Pembelajaran sejarah diharapkan dapat menumbuhkan wawasan siswa untuk belajar dan sadar akan guna dari sejarah bagi kehidupan sehari-hari sebagai individu maupun sebagai bangsa. Selayaknya pembelajaran sejarah mengacu pada guna belajar sejarah, maka perlu dikembangkan ragam pendekatan pembelajaran sejarah. Guna belajar sejarah dari perspektif tujuan pembelajaran sejarah menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga output pembelajaran sejarah adalah sosok siswa yang memiliki pengetahuan, penghayatan dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai sejarah yang mereka pelajari.
Sesuatu yang ideal dari tujuan pembelajaran sejarah tersebut akan sulit dicapai jika guru yang membawakan sejarah ke dalam kelas dianggap tidak menarik bagi siswa. Selama ini, sejarah yang diajarkan di sekolah kurang bermakna bagi siswa. Belajar sejarah hanya menghafalkan nama-nama tokoh, angka-angka tahun, dan benda-benda peninggalan kusam. Disamping itu sangat ironis, siswa diajak mempelajari asal usul daerah lain, namun tidak memahami asal-usul daerah sendiri. Disinilah persoalan pembelajaran sejarah menjadi semakin rumit, siswa sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran juga merasa bosan dengan pola-pola seperti itu. Karena itu sangat perlu untuk mengubah paradigma dalam pembelajaran sejarah yang memberikan stimulus bagi siswa untuk mempelajari sejarah, yakni dari sejarah lokal ke sejarah nasional mungkin juga sejarah dunia. Dengan kata lain diharapkan dari belajar sejarah seperti itu siswa diajak mampu memaralelkan sejarah dunia dengan sejarah nasional dan sejarah lokal dengan metode yang inovatif.
Dalam konteks seperti itu pembelajaran sejarah agar menarik dan menyenangkan dapat dilaksanakan dengan mengajak siswa pada peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di sekitar mereka. Lingkungan dapat membantu guru untuk mengembangkan pemahaman siswa tentang masa lalu. Pada umumnya siswa akan lebih tertarik terhadap pelajaran sejarah bila berhubungan dengan situasi yang nyata disekitarnya, sehingga siswa dapat menggambarkan suatu peristiwa masa lalu seperti dalam pelajaran sejarah.
Kondisi nyata disekitar siswa dapat digunakan guru sebagai cara untuk menggambarkan atau mengantarkan suatu peristiwa sejarah. Seperti diketahui bahwa setiap daerah di Indonesia mengalami perjalanan waktu dan perubahan dari sejak zaman pra sejarah hingga masa sekarang. Banyak daerah-daerah yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah sebagai bukti otentik terjadinya peristiwa sejarah pada suatu daerah. Peristiwa-peristiwa sejarah ditiap daerah di Indonesia mempunyai benang merah yang saling berkaitan sehingga guru dapat membawa peristiwa-peristiwa sejarah tersebut dalam cakupan yang lebih luas.
Peristiwa sejarah disekitar siswa diharapkan dapat membantu memahami bentuk-bentuk peristiwa masa lalu dan terjadinya suatu peristiwa masa lalu, selain itu siswa mampu menggambarkan suatu peristiwa sejarah. Idealnya, pembelajaran sejarah selalu berangkat dari masalah dan fenomena lokal, agar siswa mempunyai perasaan memiliki dan membutuhkan terhadap pelajaran yang disampaikan. Penggunaan peristiwa sejarah disekitar siswa dapat juga digunakan sebagai contoh untuk menerangkan konsep-konsep kesejarahan, misalnya konsep tentang perjuangan, penjajahan, pahlawan ataupun dalam segi budaya dan peradabannya. Penggunaan peristiwa sejarah dari perspektif lokal tersebut selanjutnya dapat diarahkan ke lingkungan daerah lain ataupun dalam skala nasional dan dunia.
readmore »»
Dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, terdapat berbagai bidang yang dipelajari diantaranya adalah pembelajaran sejarah yang berarti proses belajar mengajar sejarah. Pembelajaran sejarah pada dasarnya memiliki peran mengaktualisasikan dua unsur pembelajaran dan pendidikan. Unsur yang pertama adalah pembelajaran dan pendidikan intelektual. Unsur kedua adalah pembelajaran dan pendidikan moral bangsa dan bertanggung jawab pada masa depan (Isjoni, 2007).
Unsur pembelajaran (instruction) dan pendidikan intelektual (intellectual training) diartikan sebagai pembelajaran sejarah tidak hanya memberikan gambaran masa lampau, tetapi juga memberikan latihan berpikir kritis dengan menganalisis suatu peristiwa dan dapat mencari makna atau nilai (value) dari suatu peristiwa sejarah yang dipelajari dan yang terakhir adalah dapat menarik suatu kesimpulan dari suatu peristiwa sejarah tersebut. Sedangkan pembelajaran dan pendidikan moral bangsa menuntut pembelajaran sejarah berorientasi pada pendidikan kemanusiaan (humaniora) yang memperhatikan nilai-nilai dan norma-norma. Hasil pembelajaran ini menjadikan siswa berkperibadian kuat, mengerti sesuatu agar dapat menentukan sikapnya. Pentingnya pengertian tentang sejarah untuk kehidupan sehari-hari membuat siswa mempunyai ‘alat’ untuk menyingkap ‘tabir’ rahasia gerak sejarah. Dengan sejarah mereka dapat mengetahui hasil-hasil perjuangan, peradaban zaman dahulu dan sebagainya. Sejarah diibaratkan pendidik, karena dapat mendidik jiwa manusia lewat hasil yang dicapainya (Trevelyan, 1957). Dalam konteks seperti ini pembelajaran sejarah bukan hanya untuk menanamkan pemahaman masa lampau hingga masa kini, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat kebangsaan dan cinta tanah air. Bangga sebagai bangsa Indonesia merupakan pengalaman berarti untuk menumbuh kembangkan rasa kebangsaan dan kecintaan pada manusia secara universal. Atas dasar itu, pembelajaran sejarah lazim dipandang sebagai bagian dalam membangkitkan minat terhadap sejarah tanah airnya sendiri, untuk dilanjutkan pada suatu inspirasi sejarah dari contoh-contoh kisah yang terjadi dalam ruang lingkup daerahnya.
Pembelajaran sejarah merupakan bagian dari masa lalu yang dibawa oleh guru-guru sejarah ke dalam kelas, karena posisi demikian maka tidak semua peristiwa masa lampau itu dapat diajarkan kepada siswa. Hanya peristiwa-peristiwa yang memiliki arti istimewa yang diajarkan pada siswa, yakni peristiwa yang ikut menentukan jalannya sejarah umat manusia (Widja, 1989). Karena itu pembelajaran sejarah memiliki peran fundamental dalam kaitannya degan guna belajar sejarah atau tujuan dari belajar sejarah. Pembelajaran sejarah diharapkan dapat menumbuhkan wawasan siswa untuk belajar dan sadar akan guna dari sejarah bagi kehidupan sehari-hari sebagai individu maupun sebagai bangsa. Selayaknya pembelajaran sejarah mengacu pada guna belajar sejarah, maka perlu dikembangkan ragam pendekatan pembelajaran sejarah. Guna belajar sejarah dari perspektif tujuan pembelajaran sejarah menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga output pembelajaran sejarah adalah sosok siswa yang memiliki pengetahuan, penghayatan dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai sejarah yang mereka pelajari.
Sesuatu yang ideal dari tujuan pembelajaran sejarah tersebut akan sulit dicapai jika guru yang membawakan sejarah ke dalam kelas dianggap tidak menarik bagi siswa. Selama ini, sejarah yang diajarkan di sekolah kurang bermakna bagi siswa. Belajar sejarah hanya menghafalkan nama-nama tokoh, angka-angka tahun, dan benda-benda peninggalan kusam. Disamping itu sangat ironis, siswa diajak mempelajari asal usul daerah lain, namun tidak memahami asal-usul daerah sendiri. Disinilah persoalan pembelajaran sejarah menjadi semakin rumit, siswa sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran juga merasa bosan dengan pola-pola seperti itu. Karena itu sangat perlu untuk mengubah paradigma dalam pembelajaran sejarah yang memberikan stimulus bagi siswa untuk mempelajari sejarah, yakni dari sejarah lokal ke sejarah nasional mungkin juga sejarah dunia. Dengan kata lain diharapkan dari belajar sejarah seperti itu siswa diajak mampu memaralelkan sejarah dunia dengan sejarah nasional dan sejarah lokal dengan metode yang inovatif.
Dalam konteks seperti itu pembelajaran sejarah agar menarik dan menyenangkan dapat dilaksanakan dengan mengajak siswa pada peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di sekitar mereka. Lingkungan dapat membantu guru untuk mengembangkan pemahaman siswa tentang masa lalu. Pada umumnya siswa akan lebih tertarik terhadap pelajaran sejarah bila berhubungan dengan situasi yang nyata disekitarnya, sehingga siswa dapat menggambarkan suatu peristiwa masa lalu seperti dalam pelajaran sejarah.
Kondisi nyata disekitar siswa dapat digunakan guru sebagai cara untuk menggambarkan atau mengantarkan suatu peristiwa sejarah. Seperti diketahui bahwa setiap daerah di Indonesia mengalami perjalanan waktu dan perubahan dari sejak zaman pra sejarah hingga masa sekarang. Banyak daerah-daerah yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah sebagai bukti otentik terjadinya peristiwa sejarah pada suatu daerah. Peristiwa-peristiwa sejarah ditiap daerah di Indonesia mempunyai benang merah yang saling berkaitan sehingga guru dapat membawa peristiwa-peristiwa sejarah tersebut dalam cakupan yang lebih luas.
Peristiwa sejarah disekitar siswa diharapkan dapat membantu memahami bentuk-bentuk peristiwa masa lalu dan terjadinya suatu peristiwa masa lalu, selain itu siswa mampu menggambarkan suatu peristiwa sejarah. Idealnya, pembelajaran sejarah selalu berangkat dari masalah dan fenomena lokal, agar siswa mempunyai perasaan memiliki dan membutuhkan terhadap pelajaran yang disampaikan. Penggunaan peristiwa sejarah disekitar siswa dapat juga digunakan sebagai contoh untuk menerangkan konsep-konsep kesejarahan, misalnya konsep tentang perjuangan, penjajahan, pahlawan ataupun dalam segi budaya dan peradabannya. Penggunaan peristiwa sejarah dari perspektif lokal tersebut selanjutnya dapat diarahkan ke lingkungan daerah lain ataupun dalam skala nasional dan dunia.